Dokumen Pribadi/@Ahmad Dimas Fachri.

Dokumen Pribadi/@Ahmad Dimas Fachri.

Semakin dewasa, hidup terasa makin sibuk. Berangkat pagi pulang juga pagi, akhir pekan dipakai untuk mengisi ulang tenaga sebelum kembali menjalani rutinitas yang sama minggu depan yang terus-menerus berulang. Di tengah semua itu, banyak orang mulai terbiasa menjalani hidup seperti mesin.

Yang lebih aneh, kita jarang benar-benar berhenti untuk bertanya:

Lalu, semua ini sebenarnya buat apa?

Keresahan itu terasa kuat di dalam lagu Untuk Apa/Untuk Apa? karya Hindia. Lewat lagu ini, Hindia tidak bicara soal cinta atau patah hati seperti kebanyakan lagu lain. Ia justru membahas sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan banyak orang hari ini: ambisi, pekerjaan, dan rasa kosong yang datang setelah terlalu lama mengejar banyak hal.

Rumah yang Awalnya Dibangun Bersama

Lagu ini dibuka dengan lirik:

“Rumah ini dahulu sederhana
Ruang demi ruang dibangun bersama”

Dokumen Pribadi/@Ahmad Dimas Fachri.

Di awal lagu, Hindia menggambarkan rumah sebagai simbol kehidupan yang awalnya dibangun dengan hangat dan sederhana. Ada mimpi, ada kebersamaan, ada rasa cukup yang mungkin dulu terasa biasa saja.

Namun perlahan semuanya berubah.

“Tak sadar menimbun yang lebih berharga
Berdiri di atas yang lebih bermakna”

Bagian ini terasa seperti kritik terhadap cara hidup banyak orang sekarang. Semakin dewasa, manusia semakin sibuk mengumpulkan banyak hal sampai lupa apa yang sebenarnya penting.

Karier dikejar.

Uang dikumpulkan.

Target hidup terus dinaikkan.

Tetapi sering kali, semua itu dibayar dengan hal lain yang diam-diam hilang: waktu, keluarga, hubungan, bahkan diri sendiri.

Hidup yang Isinya Hanya Kerja

Bagian paling menampar muncul saat Hindia menyanyikan:

“Seakan hidup hanya untuk bekerja”

Youtube/@Authenticity ID.

Lirik ini terasa dekat karena memang sedang terjadi di mana-mana. Hari ini, banyak orang hidup dengan ritme yang melelahkan. Bangun pagi, kerja sampai malam, lalu mengulang hal yang sama terus-menerus.

Ironisnya, budaya seperti itu malah dianggap normal.

Orang yang sibuk terus dianggap keren. Orang yang kerja tanpa istirahat dipuji sebagai pekerja keras. Sementara hidup pelan-pelan kehilangan maknanya sendiri.

Hindia lalu melanjutkan dengan lirik:

“Mengejar mimpi sampai tak punya rasa
Mengejar mimpi sampai lupa keluarga”

Di bagian ini, lagu mulai terasa semakin personal. Banyak orang mengejar masa depan sampai lupa menikmati hidup hari ini. Ada yang terlalu fokus bekerja sampai jarang pulang. Ada yang terlalu sibuk membangun karier sampai hubungannya dengan keluarga perlahan menjauh.

Dan sering kali, semua baru terasa ketika semuanya sudah telanjur berubah.

Kesepian di Balik Pencapaian

Bagian paling kuat dari lagu ini mungkin ada di lirik:

“Kasur yang luas tapi bangun sendiri
Mobil baru mengkilap tanpa penumpang di kiri”

Hindia menggambarkan kesepian dengan cara yang sederhana, tetapi kena banget. Manusia mungkin berhasil membeli banyak hal, tetapi belum tentu punya seseorang untuk berbagi hidup dengannya.

Kasur luas yang seharusnya nyaman malah terasa kosong.

Mobil baru yang terlihat mewah jadi tidak berarti ketika tidak ada lagi orang yang duduk di sebelah.

Lalu Hindia menutupnya dengan kalimat:

“Barang mahal yang tidak ada harganya”

Dan di situlah inti lagu ini terasa. Banyak hal yang mahal ternyata tidak benar-benar bernilai ketika manusia kehilangan kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya.

Pertanyaan yang Diam-Diam Ditakuti Banyak Orang

Sepanjang lagu, Hindia terus mengulang pertanyaan:

“Untuk apa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru jadi bagian paling berat dari lagu ini. Karena pada akhirnya, tidak semua orang benar-benar tahu kenapa mereka terus berlari sejauh ini

.

Sebagian bekerja karena takut miskin.

Sebagian mengejar sukses karena takut tertinggal.

Sebagian lagi terus sibuk hanya supaya tidak sempat merasa kosong.

Dan lewat lagu ini, Hindia seperti mengajak pendengarnya berhenti sebentar untuk melihat ulang hidupnya sendiri.

Karena bisa jadi, yang selama ini dikejar mati-matian ternyata bukan benar-benar yang dibutuhkan.

Hindia tidak menyuruh pendengarnya berhenti bermimpi atau berhenti bekerja keras. Namun lagu ini seperti pengingat bahwa hidup tidak seharusnya hanya diisi dengan perlombaan tanpa jeda. Sebab pada akhirnya, pencapaian sebesar apa pun bisa terasa kosong ketika manusia kehilangan waktu, hubungan, dan dirinya sendiri di tengah prosesnya.

Dan mungkin, pertanyaan “untuk apa?” memang tidak selalu punya jawaban pasti. Tetapi setidaknya, lagu ini mengingatkan kita untuk sesekali berhenti, bernapas, lalu memastikan bahwa hidup yang sedang dijalani masih benar-benar terasa hidup.

Untuk lebih lanjut, berikut lagu “Untuk Apa / Untuk Apa?” karya Hindia yang bisa didengarkan untuk memahami langsung keresahan yang coba disampaikan lewat lirik dan musiknya.

Spotify/@Hindia.

Baca Juga: https://lemoblue.com/interpretasi-makna-lagu-untuk-apa-hindia

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *